o way to speak
I would still hear you
If there were no tears
No way to feel inside, I’d still feel for you
And even if the sun refused to shine
Even if romance ran out of rhyme
You would still have my heart until the end of time
You’re all I need, my love, my Valentine
Pernah mendengar lantunan lagu dari lirik di atas? Yup, itu adalah penggalan lagu wajib bulan Februari yang berjudul Valentine.
Dengan suara merdu Martina McBride diiringi lantunan piano ciamik dari
Jim Brickman, lengkap sudah nuansa syahdu yang dihadirkannya. Apalagi
kalo kamu lagi poling in lop (falling in love), huaaa….suasana Februari yang mellow jadi semakin biru…. (eh, pink kali yee..).
Kehebohan Valentine’s Day (VD) sebagai sebuah
perayaan hampir-hampir menjadi menu wajib dan menggantikan hari besar
lainnya. Coba bandingkan peringatan Isra’ Mi’raj, dan Maulid Nabi
dengan Valentine’s Day. Jauh banget dah. Peringatan hari besar Islam
identik dengan ceramah, dihadiri oleh sosok berjenggot dan perempuan
berjilbab, dan dirayakan secara sederhana. Itu semua bagi sebagian
orang dianggap sebagai simbol kuno.
Sebaliknya dengan perayaan VD yang identik dengan
pesta sambil membawa pasangan lawan jenis masing-masing, baju rapi
jali bagi yang cowok dan gaun malam yang setengah telanjang bagi si
cewek, dan perayaan secara mewah. Inilah simbol yang katanya modern
yang banyak diikuti remaja.
Anak SD, SMP, SMA, hingga kuliah bahkan yang
sudah kerja pun merasa bahwa merayakan hari Valentine adalah wajib.
Didorong oleh media baik elektronik semacam TV dan cetak semisal surat
kabar, majalah dan tabloid, momen Valentine’s Day ini sengaja di blow-up
oleh pihak-pihak tertentu. Seakan-akan ada rasa malu dan ketinggalan
jaman bila sampai tidak ikut merayakan hari yang katanya penanda kasih
sayang itu.
Valentine, bukan budaya kita
Sudah banyak tulisan yang membahas tentang hal ini. Kalo kamu rajin browsing
internet dan banyak baca artikel di sana, akan terlihat bahwa Valentine
bukanlah milik kita. Sedikit mengulas bahwa ada beberapa versi yang
menyebutkan darimana asal muasal perayaan VD ini. Ada versi yang
mengatakan bahwa hari Valentine adalah perayaan untuk mengenang pendeta
Valentino yang mati karena membela keyakinannya. Ada juga yang bilang
pendeta ini mati karena membela cinta dua jenis anak manusia padahal
gereja telah melarangnya. Bahkan ada versi yang mengatakan bahwa pada
tanggal14 Februari ini adalah musim kawin sejenis burung tertentu. (lengkapnya silakan lihat di Microsoft Student with Encarta Premium 2008)
Dari sekilas penjelasan di atas, kamu-kamu jadi
ngeh kan bahwa sesungguhnya budaya hari Valentine dan merayakannya
bukan berasal dari Islam.
‘Kan boleh, cuma sekadar ikut merayakan saja.
Bukankah ini hari kasih sayang sedunia yang universal?’ Mungkin
sebagian dari kamu berdalih begitu.
Oke, tapi bagi kaum muslimin, kita udah diwanti-wanti sama Allah Swt. melalui firmanNya:
وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu
tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran,
penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan
jawabnya.” (QS al-Israa [17]: 36)
Nah, inilah uniknya Islam. Tidak ada yang namanya
sekadar ikut, cuma ngikut atau ikut-ikutan saja. Sebelum melakukan
suatu perbuatan, sebagai muslim, kita harus paham apa dan bagaimana
Islam menyikapinya. Ini mendidik kamu, para remaja muslim, agar tidak
menjadi generasi pembebek. Generasi yang bisanya cuma ikut-ikutan tanpa
tahu ilmunya. Islam mengajak kamu untuk cerdas dalam menyikapi
sesuatu.
Tidak ada kata “cuma” dalam kehidupan seorang
muslim. Itu karena tiap perbuatan meskipun itu sebesar debu akan
dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Begitu juga dengan
perayaan Valentine. Banyak orang berdalih untuk membenarkan dirinya
sendiri ketika ia turut larut dalam perayaan ini. Atau, meskipun ia
tidak turut merayakan, tapi ia juga tidak melarang. Walah, ragu-ragu
maksudnya? Begitulah, di satu sisi orang seperti ini takut dicap
fanatik, tapi di sisi lain ia juga takut dianggap ketinggalan jaman.
Jadilah, antara bilang iya dan tidak dalam penyikapannya.
Valentine, sarana perusak generasi
Rasulullah saw. Bersabda: Kamu telah
mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal,
sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang
biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya: Wahai Rasulullah,
apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan
orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi? (HR. Bukhari Muslim)
Bukan karena Rasulullah pinter meramal ketika apa
yang dikatakan beliau ternyata benar adanya. Tapi karena beliau
khawatir terhadap kebodohan umat yang semakin meluas. Kebodohan inilah
yang menjadi penyebab kaum muslim yang seharusnya sebagai umat terbaik,
malah menjadi umat pengekor. Dan ternyata, semua itu menjadi kenyataan
ketika kita melihat kelakuan remaja-remaja sekarang yang bisanya cuma
mengikut budaya Barat.
Emang sih, nggak semua yang berasal dari Barat
itu buruk. Tapi dalam hal perayaan hari Valentine ini jelas-jelas buruk
dan merusak generasi muda. How? Pertama, mulai dari asal muasalnya aja
udah jelas-jelas nggak benar menurut pandangan Islam untuk ikut
merayakan. Kedua, yang namanya merayakan Valentine, umumnya sama
pasangan alias kekasih atau pacar. Ketiga, kalo udah mulai urusan
pacar-pacaran begini, mau dibawa kemana hubungan dua anak manusia
berlainan jenis kelamin ini? Gaul bebas? Sangat mungkin!
See, nggak kekurangan cara musuh Islam
untuk merusak kaum muslimin termasuk generasi mudanya. Seiring dengan
semakin bebasnya teknologi informasi berupa alat telekomunikasi, budaya
merayakan Valentine ini dengan mudah masuk ke kamar-kamar kita. Bisa
lewat surat kabar, majalah remaja, radio, TV, internet, HP, dll.
Bo’ong besar kalo ada yang bilang bahwa Valentine
adalah hari kasih sayang. Kalo memang seperti itu, kenapa juga yang
dijadikan sasaran adalah anak-anak muda? Kenapa bukan ibu-bapak kita,
kakek-nenek kita? Soalnya jauh lebih strategis merusak generasi yang
bakal menjadi penerus peradaban alias pemuda. Kalo pemudanya rusak, ho
ho ho, mudah banget merusak sendi lainnya. Betul itu.
Valentine, wajah buruk budaya Barat
Valentine’s Day diyakini sebagai hari kasih
sayang. Ah, masa’ iya sih? Jangan mudah kamu dibodohi oleh slogan
semacam ini. Why? Karena kalo beneran mereka yang suka menjajakan
Valentine itu memang merayakan kasih sayang, tanya buktinya. Angka
perceraian tinggi, anak-anak menjadi rusak karena broken home,
prostitusi merajalela bahkan disahkan oleh negara, aborsi juga legal,
para orang tua ditelantarkan di panti jompo dll. Inikah kasih sayang
yang bisa dicontohkan oleh mereka?
Lalu sekarang coba tengok ke arah Timur. Irak
hancur lebur, muslimahnya jadi korban perkosaan para tentara Barat,
anak-anak kecil dan orangtua serta warga sipil dibantai tanpa ampun,
negerinya dijajah dan porak-poranda. Belum lagi Afghanistan, Bosnia,
Chechnya, bahkan Indonesia. Semuanya dijajah. Bila tidak secara fisik,
pastilah secara ekonomi dengan hutang yang diwariskan pada anak cucu
kita. Secara budaya, salah satunya adalah memaksakan perayaan Valentine
ini ke generasi muda kita. Waspadalah! Waspadalah!
Pheww….ternyata jauh banget ya kenyataan dengan syahdunya lirik lagu di atas? Jaka sembung bawa kebo, nggak nyambung bo’.
Masa’ iya sih, setelah tahu hakikat asli wajah buruk di balik Valentine, kamu masih suka-cita menyambutnya? Nyadar euy!
Valentine itu hanya sebuah momen bagi para
kapitalis yang mata duitan untuk menangguk untung sebanyak-banyaknya.
Coklat, boneka, dan bunga jadi laris manis. Begitu juga dengan kartu
sok romantis padahal aslinya cuma pingin mendapat kecup manis dari sang
gebetan. Walah, naudzubillah banget.
Campakkan Valentine!
Yo’i, saatnya kita mencampakkan budaya yang
jelas-jelas nggak memberi manfaat apa pun pada kita, kaum muslimin.
Kalo hanya dengan alasan kasih sayang, Islam adalah sumber dan muara
kasih sayang itu sendiri. Mulai dari haramnya aborsi karena setiap anak
punya hak hidup, naluri sayang seorang ibu juga dijaga agar tidak
dirusak oleh paham atas nama kebebasan. Begitu juga dengan penghargaaan
seorang anak yang tinggi untuk menghormati ibu dan bapaknya. Nggak ada
konsep penitipan panti jompo dalam Islam. Toh, betapa pun tuanya
orangtua kita, merekalah yang dulu pernah melahirkan dan membesarkan
kita dengan kasih sayang. Tul kan?
Hubungan laki-laki dan perempuan bila ingin
berkasih-sayang, ada sarananya. Pernikahan. Di sinilah satu sama lain
diajari untuk mengenal kasih-sayang sejati yang diikuti tanggung jawab.
Bukan hanya bisa memberi bunga, coklat dan boneka tanpa berani
berkomitmen dan maunya sekadar pacaran mulu. Tapi Islam mengajarkan
cowok untuk jadi laki-laki sejati, begitu dengan para cewek. Jangan mau
digombali hanya dengan rayuan tak bermutu.
Bukan hanya dengan sesama manusia, kasih sayang
dianjurkan oleh Islam untuk diberikan juga pada makhluk lainnya semisal
hewan, tumbuhan dan lingkungan. Hewan boleh disembelih sewajarnya
untuk kebutuhan umat manusia. Tidak boleh menyiksa apalagi
menyakitinya. Jangan malah kebalik. Banyak orang kafir itu yang tidak
mau menyakiti binatang, tapi malah hobi membantai umat manusia terutama
kaum muslimin.
Tumbuhan juga harus diperlakukan dengan
seharusnya. Tidak boleh ada eksploitasi hutan demi memuaskan nafsu para
kapitalis yang haus duit.
Mereka yang suka gembar-gembor Valentine’s Day
dan kasih sayang, malah mereka juga yang enggan untuk melindungi dan
menyayangi bumi. Contohnya Amerika tuh yang menolak peduli terhadap
efek global warming atau pemanasan global. Ozon yang semakin
menipis karena efek rumah kaca, toh itu juga banyak berasal dari
negaranya yang penuh dengan gedung bertingkat dan pemakaian freon
secara berlebihan.
Kalau sudah begini, kamu masih percaya dengan
Valentine’s Day adalah hari kasih sayang? Universal pula? Naif banget
kalo iya. Moga aja dengan artikel sederhana ini kamu tersadar akan
bualan nggak bermutu tentang makna kasih sayang. Cukup Islam saja
sebagai tolak ukur dalam seluruh perbuatan kita. Insya Allah pasti
selamat dunia-akhirat. Dijamin!
So, mari kita campakkan Valentine dan ambil Islam saja sebagai the way of life yang penuh kasih sayang. Yuk, kaji Islam biar cerdas dan takwa. Pasti setuju donk yah ^_^(.voa-islam.com)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar