Kamis, 20 Maret 2014

Open Mind: Jadi Siapa Teroris Sesungguhnya?

Open Mind: Jadi Siapa Teroris Sesungguhnya?

















Siapakah yang menyulut perang dunia pertama? ..... Apakah orang Islam? Bukan !

Siapakah yang menyulut perang dunia kedua? ..... Apakah orang Muslim? Bukan !

Siapakah yang menjatuhkan bom atom atas Hiroshima? ..... Apakah orang Islam? Bukan !

Wahai Sahabat Muda Voa-Islam...

Siapakah yang membantai 20 juta suku Aborigin di Australia? ..... Apakah orang Muslim? Bukan !

Siapakah yang membantai lebih dari 100 juta suku indian merah di Benua Utara Amerika? .... Apakah mereka orang Islam? Bukan !

Dan siapakah yang membantai lebih dari lebih dari 50 juta Indian merah di benua Selatan Amerika? ..... Apakah mereka orang-orang Muslim? Bukan !

Siapakah yang menjadikan lebih dari 150 juta manusia dari Afrika sebagai budak (apartheid), Diantara 77 % dari mereka mati di perjalanan dan dikubur di lautan Atlantik? ..... Apakah orang Islam? Bukan !

Amerika patut disebut teroris karena telah membunuh ribuan bahkan hingga jutaan manusia di Iraq, Afghanistan, Korea, dll dengan berbagai dalih.

Israel juga sangat layak disebut teroris karena menduduki dan merampas tanah Palestina yang bukan miliknya dan mengusir ribuan orang dari tanah kelahiran mereka.

Israel juga membunuh 10.000 rakyat Libanon, hanya karena alasan hilangnya 2 orang tentara mereka ... ini juga adalah tindakan terorisme.

Jadi siapa teroris yang sesungguhnya ? [brbs/aqwam/voa-islam.com]

Bangkitkan Mereka!

SmartTeen: Bangkitkan Mereka!

Sahabat Shalih dan Shalihah Voa Islam,
Pemuda merupakan generasi harapan bagi dien dan negeri dimana ia tinggal. Bukan menjadi generasi yang akan menyebabkan kerusakan atau bahkan kehancuran suatu negeri dengan ulah perilaku mereka yang tidak sesuai dengan syari’at Allah Ta’ala. Bagi siapapun itu yang peduli akan kebangkitan Islam tentu tidak akan melupakan front yang satu ini. Karena dibarisan inilah semangat perjuangan berkobar dengan membara.
Sungguh negeri ini merupakan sebuah negeri yang hampir seluruh penduduknya menyandang predikat seorang muslim. Potensi yang sangat luar biasa untuk sebuah gerakan kebangkitan Islam. Sekilas mungkin akan terbesit dibenak kawan maupun lawan bahwa negeri ini akan menjadi bagian dari kekuatan hebat kaum muslimin. Semudah itukah?
Ternyata walau negeri ini berpenduduk mayoritas muslim rasanya perjuangan dalam membumikan Kitabullah dan Sunnah tetap terasa berat bahkan terasa lebih berat.
Kenapa perjuangannya terasa lebih berat padahal saat ini pun perjuangannya sudah cukup berat? Da’i di stigmakan sebagai fundamental, radikal bahkan teroris. Kebathilan dilindungi. Kesesatan dan kemungkaran dibiarkan berkembang liar asalkan mempunyai kekuatan lobi dll.
bagaimana tidak.. masyarakat negeri ini masih jauh dari tuntunan dan norma-norma Islam didalam menjalani kehidupan untuk pribadi dan keluarganya. Diantara mereka pun masih banyak yang belum mengetahui hakikat syari’at yang sesuai dengan manhaj Rasul Shalallahu’alaihi wa sallam. Bahkan diantara mereka masih ada yang tidak menginginkan tegaknya Islam secara institusi atau struktural dinegeri ini dalam bentuk Daulah Islam.
Tidak terkecuali para pemuda yang seharusnya mempunyai andil cukup besar didalam sebuah gerakan kebangkitan Islam terkhusus di negeri ini tapi apa yang terjadi dengan para pemuda kita di zaman dan negeri ini? Mereka tersibukkan dan tertipudaya dengan kehidupan dunia yang penuh jebakan-jebakan syahwat iblis dan balatentaranya. Padahal pemuda merupakan pelopor sekaligus pilar didalam sebuah perjuangan untuk menggapai kemenangan atas tujuan. Dan kemenangan tidak dapat mungkin diraih jika amanah perjuangan diemban oleh jiwa-jiwa yang kerdil. Jiwa-jiwa yang tidak mengerti dan memahami apa yang sedang mereka perjuangkan! Tidak sedikit yang mengklaim memperjuangkan Al Haq namun pada kenyataannya seiring dengan berjalannya waktu perjuangan itu tidak memberikan pengaruh apapun yang ada barisan nya menjadi barisan yang porak-poranda dikarenakan manhaj dalam perjuangan yang melenceng.
Tidak bisa dipungkiri saat ini mayoritas pemuda kita masih sangat jauh dari harapan untuk berke-inginan ikut serta dalam perjuangan menegakkan Kalimatullah. Lantas apa yang seharusnya dilakukan? Ini semua tidak lepas dari peran globalisasi juga perang pemikiran yang dilancarkan musuh-musuh Islam. Dan yang harus dilakukan tentunya mempersiapkan generasi yang akan datang dari sejak dini dengan memberikan tarbiyah yang sungguh-sungguh kepada mereka. Membangun keimanan dan Tauhid yang kokoh dalam jiwa-jiwa mereka. Mengajarkan, menanamkan dan memahamkan ‘Ilmu dan Manhaj yang benar dalam kehidupan mereka.
Arus globalisasi saat ini tidak hanya membawa dampak kerusakan bagi para pemuda tapi juga perangkap-perangkap perang pemikiran ikut serta didalam arus ini. Diantara cara agar pemuda kita tidak (terus) terjebak kedalam perangkap perang pemikiran ini adalah dengan melakukan perang yang serupa. Pemikiran dilawan dengan pemikiran dan senjata tentunya dilawan dengan senjata. Ide-ide dan pemahaman-pemahaman kufur lagi menyesatkan, syubhat yang ditebarkan musuh-musuh Islam dan kaum munafiqin, budaya yang diadopsi dari luar bahkan budaya dalam negeri yang bertentangan dengan Al Islam semua kita perangi dan patahkan dengan menegakkan Hujjah yakni Al Haq.
Sampaikan Hujjah dan Risalah Al Islam yang Agung lagi Mulia ini kepada mereka, tunaikan kewajiban kita untuk berdakwah, ber- Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Jika keimanan, ‘ilmu dan manhaj yang benar telah menancap dengan kokoh dalam jiwa-jiwa mereka maka jerat ghazwul fikr yang membelit mereka akan mudah mereka hancurkan dan mereka pun akan mampu untuk menangkal dan melawan arus perang pemikiran ini.
Jika pemuda kita telah tersentuh dakwah.. tercerahkah oleh dakwah.. meniti jalan suci nan mulia ini maka pemuda-pemuda kita akan menjadi pemuda yang tangguh. Menjadi pemuda harapan dien dalam menegakkan Kalimatullah.. menjadi benteng kokoh yang menjaga Izzah Islam dan kaum Muslimin. Mari bangkitkan Mereka..!! Wallahu’alam..

Jika Sudah Kecanduan Pacaran...

KONON, hanya satu hal yang dapat mengubah kejiwaan remaja atau pemuda yang sedang bergejolak. Seorang pecandu rokok, pemain game atau pembolos ketika sekolah akan bertekuk lutut ketika sang kekasih memintanya untuk menghentikan kebiasaan buruknya. Atas nama cinta! Yah, itulah alasannya. Suatu alasan yang telah menjamur.

Namun, seperti yang di’konon’kan di atas, sangatlah tidak masuk akal dan tidak bisa dibenarkan. Mari mencoba melihat realita. Berapa banyak mahasiswa yang rajin, rela mengorbankan waktu belajarnya untuk pacaran. Dan yang gemar menabung, merelakan rupiah demi rupiahnya untuk sebuah candle light dinner.

Pada hakikatnya pacaran hanyalah memindahkan seseorang dari satu lubang ke lubang yang lain. Dan juga menyeret orang yang selamat ke sebuah lubang yang dimurkai Allah.

Sebuah analogi yang logis. Ketika seorang majikan sebuah toko, dia memiliki satu orang pekerja. Dengan satu orang pekerja yang dia miliki, dia mampu mengembangkan usahanya menjadi lebih maju. Semakin hari, usaha yang dia rintis semakin bertambah dan dia mengambil satu orang lagi sebagai pekerja. Kemudian dia menuturkan, jika satu orang pekerja memiliki power bernilai 4, ketika ditambah satu orang yang juga memiliki power bernilai 4. Hasil yang didapat bukan sekedar 8 power, namun 10 atau bahkan lebih. Kerja sama membuat mereka dapat bekerja lebih bagus.
Berbeda lagi dengan dua orang yang dimabuk cinta. Ketika dia masih berstatus single, dengan tekad yang bulat dia mampu mengerjakan suatu pekerjaan dengan sendirinya. Namun ketika ada satu orang yang dianggapnya sebagai 'pacar', ketika suatu pekerjaan dihadapi, dia hanya berkata "yank, masa sayank tega sih liat aku ngerjain tugas sendirian?" tragis. Satu bukti bahwa pacaran melemahkan mental, menurunkan produktivitas dan mengacaukan agenda.

Pacaran adalah sebuah aktivitas yang menyiksa batin dan mempermainkan hati, permainannya menyebabkan hati menjadi sakit bahkan tidak sedikit yang hatinya mati dibuatnya. Kasus petinggi negara Indonesia, pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, zina anggota DPR bisa dijadikan contoh, atau perselingkuhan presiden terdahulu dengan istri orang, dan masih banyak lagi. Ketika hati tidak berfungsi sebagai pengontrol akhlak, banyak kejahatan yang ditimbulkan.

Juga ketika seharusnya remaja dengan jiwa mudanya mampu berkreasi dan memberikan gebrakan besar dalam kehidupan ini. Atas nama cinta dia dibuatnya tidak berkutik. Sehari tidak bertemu pacar, seperti ada sesuatu yang kurang, aktivitas dilakukan dengan tanpa ada semangat. Hampa dunia terasa, apalagi ketika 'putus'. Menandakan bahwa pacaran menjadikan hari-hari penuh dengan rasa was-was, dan tidak memberikan ketenangan.

Pacaran itu candu, bagaikan meminum air laut, di setiap tegukan memberikan rasa haus yang semakin bertambah. Pacaran itu bak pecandu rokok. Berawal dengan merokok menjadikan kebiasaan buruk lain muncul.
Pacaran itu candu! Berawal dengan sekedar chatting, lalu bergandengan tangan, kemudian berciuman dan akhirnya banyak yang sampai pada zina. Na'udzubillah min dzalik.

Masih banyak efek samping yang dapat ditimbulkan dari pacaran. Melakukan atau menjauhinya adalah sebuah pilihan. Sebagaimana surga dan neraka yang bebas kita pilih, dengan konsekuensi masing-masing tentunya. Karena hanya ada dua pilihan dalam hidup. Bahagia, atau binasa. Semoga Allah memberikan jalan terbaik untuk dapat kita tempuh dengan penuh kelapangan. [Rafiq Jauhary/voa-islam.com]

Begini Seharusnya Pemuda

Begini Seharusnya Pemuda










Di suatu malam yang indah, saat bulan menerangi bumi , seorang bapak datang menemui saya. Dia mengadukan prihal anaknya yang baru beranjak dua puluh tahun dari usianya. Sambil duduk, ia mengungkapkan “saya tak tahu lagi, apa yang mesti saya lakukan terhadapnya. Saya benar-benar bingung menghadapinya.“
Saya balik bertanya “Apa maksud Anda? Apakah mengadukan salah satu jenis kesalahan dan kenakalan anak Anda? Apa ia tidak shalat? Tidak belajar dengan baik? Ataukah, ia tidak ghodhul bashor (menundukkan pandangannya), sebenarnya apa yang menjadi persoalannya?”
Saya terkejut, tatkala ia berkata dengan penuh emosi “Wahai Doktor, justru sebaliknya, saya mengadukan saya yang sangat rajin dan komitmen terhadap perintah agama. Ia selalu mencari tahu hokum setiap masalah, baik yang sepele maupun yang besar; apakah ini halal ataukah haram?”
“Hampir setiap sholatnya dikerjakan di masjid. Hari–harinya selalu dilalui dengan membaca buku-buku besar dan kitab-kitab rujukan yang tebal. Setiap harinya selalu berbicara tentang Palestina, Irak, Sudan dan Chechnya. Sikap pedulinya jauh lebih besar dari pada usianya,” lanjut sang bapak.
Ia menambahkan, “Saya sudah menesehatinya agar meninggalkan semua itu dan hidup layaknya para pemuda sekarang. Saya ingin agar anak saya juga bemain, bargaul dan bersenang-senang sebagaimana pemuda yang lain. Wahai Doktor, nasehatilah saya, apa yang harus saya lakukan pada anak saya?”
Saya menarik nafas dalam-dalam. Setelah berpikir dan merenung sejenak, saya berujar, ”Nasehat saya, Anda harus lebih banyak berinteraksi dengan anak Anda dan belajar darinya. Betapa banyak orang tua yang memerlukan arahan dan bimbingan. Tetapi sebaliknya, tak sedikit anak- anak yang meskipun masih muda mendapat “hikmah” yang tak kunjung didapatkan oleh orang tuanya selama bertahun-tahun?”
Kisah di atas memiliki banyak sekali manfaat yang bisa diambil untuk dijadikan sebagai motivasi bagi pemuda dan renungan bagi orang tua.
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam pada hari kiamat sehingga dia ditanya tentang lima perkara : Tentang masa mudanya, untuk apa ia gunakan, tentang usianya untuk apa dia habiskan, tentang hartanya, dari mana ia peroleh dan untuk apa dia belanjakan, serta tentang ilmunya, apa yang diperbua tdengan ilmunya.