KONON, hanya satu hal yang dapat mengubah
kejiwaan remaja atau pemuda yang sedang bergejolak. Seorang pecandu
rokok, pemain game atau pembolos ketika sekolah akan bertekuk lutut
ketika sang kekasih memintanya untuk menghentikan kebiasaan buruknya.
Atas nama cinta! Yah, itulah alasannya. Suatu alasan yang telah
menjamur.
Namun, seperti yang di’konon’kan di atas, sangatlah
tidak masuk akal dan tidak bisa dibenarkan. Mari mencoba melihat
realita. Berapa banyak mahasiswa yang rajin, rela mengorbankan waktu
belajarnya untuk pacaran. Dan yang gemar menabung, merelakan rupiah demi
rupiahnya untuk sebuah
candle light dinner.
Pada
hakikatnya pacaran hanyalah memindahkan seseorang dari satu lubang ke
lubang yang lain. Dan juga menyeret orang yang selamat ke sebuah lubang
yang dimurkai Allah.
Sebuah analogi yang logis. Ketika seorang
majikan sebuah toko, dia memiliki satu orang pekerja. Dengan satu orang
pekerja yang dia miliki, dia mampu mengembangkan usahanya menjadi lebih
maju. Semakin hari, usaha yang dia rintis semakin bertambah dan dia
mengambil satu orang lagi sebagai pekerja. Kemudian dia menuturkan, jika
satu orang pekerja memiliki power bernilai 4, ketika ditambah satu
orang yang juga memiliki power bernilai 4. Hasil yang didapat bukan
sekedar 8 power, namun 10 atau bahkan lebih. Kerja sama membuat mereka
dapat bekerja lebih bagus.
Berbeda lagi dengan dua orang yang dimabuk cinta. Ketika dia masih
berstatus single, dengan tekad yang bulat dia mampu mengerjakan suatu
pekerjaan dengan sendirinya. Namun ketika ada satu orang yang
dianggapnya sebagai 'pacar', ketika suatu pekerjaan dihadapi, dia hanya
berkata "yank, masa sayank tega sih liat aku ngerjain tugas sendirian?"
tragis. Satu bukti bahwa pacaran melemahkan mental, menurunkan
produktivitas dan mengacaukan agenda.
Pacaran adalah sebuah
aktivitas yang menyiksa batin dan mempermainkan hati, permainannya
menyebabkan hati menjadi sakit bahkan tidak sedikit yang hatinya mati
dibuatnya. Kasus petinggi negara Indonesia, pembunuhan Nasrudin
Zulkarnaen, zina anggota DPR bisa dijadikan contoh, atau perselingkuhan
presiden terdahulu dengan istri orang, dan masih banyak lagi. Ketika
hati tidak berfungsi sebagai pengontrol akhlak, banyak kejahatan yang
ditimbulkan.
Juga ketika seharusnya remaja dengan jiwa mudanya
mampu berkreasi dan memberikan gebrakan besar dalam kehidupan ini. Atas
nama cinta dia dibuatnya tidak berkutik. Sehari tidak bertemu pacar,
seperti ada sesuatu yang kurang, aktivitas dilakukan dengan tanpa ada
semangat. Hampa dunia terasa, apalagi ketika 'putus'. Menandakan bahwa
pacaran menjadikan hari-hari penuh dengan rasa was-was, dan tidak
memberikan ketenangan.
Pacaran itu candu, bagaikan meminum air
laut, di setiap tegukan memberikan rasa haus yang semakin bertambah.
Pacaran itu bak pecandu rokok. Berawal dengan merokok menjadikan
kebiasaan buruk lain muncul.
Pacaran itu candu! Berawal dengan sekedar chatting, lalu bergandengan
tangan, kemudian berciuman dan akhirnya banyak yang sampai pada zina.
Na'udzubillah min dzalik.
Masih
banyak efek samping yang dapat ditimbulkan dari pacaran. Melakukan atau
menjauhinya adalah sebuah pilihan. Sebagaimana surga dan neraka yang
bebas kita pilih, dengan konsekuensi masing-masing tentunya. Karena
hanya ada dua pilihan dalam hidup. Bahagia, atau binasa. Semoga Allah
memberikan jalan terbaik untuk dapat kita tempuh dengan penuh
kelapangan. [Rafiq Jauhary/voa-islam.com]